Perjalanan Menjadi Seorang Peneliti Muda
![]() |
| Sumber: Instagram @qonyanjani |
Jas
laboratorium dan sarung tangan karet telah menjadi bagian dari Qonita sebagai
peneliti. Perempuan kelahiran Palu, 21 Februari 1995 ini bernama lengkap Qonita
Kurnia Anjani, S.Si., Apt., PhD. Saat ini ia menetap di Belfast, UK dan tengah
sibuk bekerja sebagai Postdoctoral Research Fellow di School of Pharmacy, Queen’s
University Belfast. Saat berusia 14 tahun, ia merantau ke Gorontalo untuk
mengenyam Pendidikan Menengah Atas, tepatnya di Man Insan Cendekia Gorontalo. Setelah
lulus, ia tidak pernah menetap di tanah kelahirannya. Ia selalu melanglang
buana untuk mengenyam pendidikan dan mengejar mimpinya.
Sejak
kecil, Qonita memiliki cita-cita untuk menjadi dokter. Namun hal tersebut berubah
ketika ia mengikuti lomba ISPO (Indonesian Science Project Olymipad) saat ia
masih duduk di bangku Madrasah Aliyah. Seorang juri pernah bertanya kepadanya
mengenai apa cita-citanya. Akan tetapi ketika mendengar Qonita mengatakan ingin
menjadi dokter, juri sekaligus dosen di salah satu universitas di Indonesia tersebut
menilai bahwa Qonita lebih cocok untuk menjadi peneliti karena telah melihat hasil
penelitian Qonita saat itu mengenai lidah buaya, daun pepaya dan micin sebagai
anti korosi. Hingga pada saat mendaftar untuk kuliah, Qonita lolos di Universitas
Hasanuddin sebagai Mahasiswa Jurusan Farmasi.
Anak
sulung dari tiga bersaudara ini tidak pernah menyerah dalam mengejar mimpinya. Sejak
masih menjadi siswa Madrasah Aliyah, ia selalu mengikuti lomba-lomba dan
menjadi pemenang di beberapa lomba tersebut. Ia selalu menuliskan daftar
keinginannya dan menempelkannya di dinding kamarnya. Hal tersebut menjadi
acuannya untuk bisa merealisasikan mimpi-mimpinya tersebut. Qonita tidak pernah
lelah dalam belajar. Ia selalu senang ketika belajar dan meneliti. Lulus S1
dengan predikat cumlaude dan gelar S.Si tidak menjadikan Qonita merasa puas. Ia
kembali kuliah dengan mengambil profesi apoteker di Universitas Hasanuddin.
Setelah
lulus dengan predikat cumlaude (lagi) dan gelar Apt, Qonita mempersiapkan diri
untuk ikut beasiswa LPDP dan ingin melanjutkan S2 sesuai bidangnya. Dalam persiapan
tersebut, Qonita tidak henti-hentinya berdoa dan meminta restu orang tuanya agar
semuanya menjadi lancar. Doa orang tua menjadi kekuatan dalam perjalanan Qonita
selama ini. Qonita tahu betul bahwa semua hal yang ia dapatkan saat ini merupakan
hasil dari doa orang tua yang selalu berada di sisinya. Hingga akhirnya Qonita berhasil
mendapatkan beasiswa LPDP dan resmi menjadi mahasiswa di Queen’s University Belfast,
UK.
Perbedaan
musim dan waktu 8 jam antara Belfast dengan Palu tidak menjadi penghalang bagi
Qonita untuk terus berkomunikasi dengan keluarganya. Setiap ingin mengakhiri
telepon, Qonita selalu mengatakan, “Ma, Pa, doakan terus saya”. Selain tantangan
atau hambatan mengenai musim, waktu, dan budaya, Qonita juga harus menghadapi
tantangan yang lain. Pada 28 September 2018, Qonita mendapatkan kabar yang membuatnya
sangat terpukul. Keluarganya di Palu terkena dampak bencana gempa bumi bermagnitudo 7,4. Ia
tidak konsentrasi dalam menjalankan aktivitas perkuliahan. Ia benar-benar khawatir
karena ia jauh dan tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa. Orang tua Qonita
tidak henti-hentinya meyakinkan bahwa mereka di Palu baik-baik saja dan tidak
perlu khawatir. Tantangan atau hambatan seperti itulah yang harus dihadapinya
sebagai anak rantau.
![]() |
| Sumber: Instagram @qonyanjani |
Qonita
menyelesaikan S2 dan S3-nya kurang lebih selama 3 tahun dengan gelar PhD. Jumlah
artiker ilmiah yang berhasil Qonita publikasikan sebanyak 22 paper. Menjadi
orang yang bermanfaat bagi orang banyak merupakan niat dan motivasi Qonita yang
ingin menjadi peneliti. Qonita juga pernah menjadi Sekretaris pada PPI
(Persatuan Pelajar Indonesia) Belfast. Kini, orang tua Qonita tidak perlu
terlalu khawatir karena anak sulung perempuannya telah bersama dengan suaminya
yang bernama Luki Ahmadi Hari Wardoyo, S.Ds. Saat ini kurang lebih 2 tahun mereka
tinggal di Belfast, Northern Ireland, UK. Qonita tidak lagi merasa kesepian,
karena kini ia dan suaminya akan berpetualang bersama-sama.
Menjadi
orang yang bermanfaat bagi orang banyak merupakan niat dan motivasi Qonita yang
ingin menjadi peneliti. Oleh karena itu, keteguhannya dalam belajar dan
menggapai impiannya patut untuk dicontoh agar Indonesia bisa semakin berkembang
karena masyarakatnya memiliki etos yang baik.


Komentar
Posting Komentar