Langsung ke konten utama

Resensi Novel Samantha by Risa Saraswati


Resensi Novel Samantha by Risa Saraswati



Judul Buku      : Samantha

Pengarang       : Risa Saraswati

Penerbit           : PT. Bukune Kreatif Cipta

Tahun Terbit    : Februari 2018, cetakan pertama

Dimensi buku  : xii+192 halaman; 14x20 cm

Harga Buku     : Rp. 67.100 (Harga Pulau Jawa)

ISBN               : 978-602-220-258-5

Peresensi         : Naily Kurnia Riskiani; Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Tadulako


Blurb Buku

Terlalu lama aku melupakan Samantha, sosok hantu anak perempuan yang kutemui saat umurku masih belasan. Sampai di malam ini, dia muncul dan bertanya dengan malu, apakah aku masih ingat padanya? Seketika, aku ingat janjiku pada anak cantik bersorot mata sedih dan kesepian itu untuk sering mengunjunginya dan mengajak sahabat-sahabatku.

Aku benar-benar ceroboh telah melupakannya.

Namun, Samantha tak marah kepadaku. Dia bilang, "Aku selalu terkesan dengan pertemuan kita, kau juga kuanggap salah satu teman terbaikku. Dan yang terpenting, sekarang, kau ingat aku, bukan?"

Kini, pukul dua dini hari, kedua tanganku resah, tak sabar membuka laptop. Aku akan membiarkan jari-jari ini menulis banyak kata.

Samantha, berceritalah kepadaku. Izinkan aku menyelam ke dalamnya, agar aku mengerti bagaimana sulitnya menjadi dirimu. Keinginanku hanya satu, membuatmu tak lagi kesepian.

Sinopsis

Novel ini menceritakan tentang gadis kecil bernama Samantha yang hidup pada zaman Hindia Belanda. Ia merupakan anak angkat keluarga De Witt, yang merupakan salah satu keluarga kaya di Hindia Belanda saat itu. Sejak kecil Samantha tidak mengetahui bahwa ibunya telah meninggal dan ia juga tidak mengetahui bahwa ia dirawat oleh Baron dan Hannah De Witt karena mereka telah berjanji dengan mendiang ibunya Samantha untuk menjaganya dan tidak diberikan ke panti asuhan. Samantha hidup dengan kebutuhan yang lebih dari cukup. Namun hal itu tidak menjamin kebahagiaan Samantha. Ia kesepian karena orang tuanya sibuk bekerja. Samantha setiap harinya hanya ditemani pengasuhnya. Untuk mendapatkan perhatian orang tuanya, Samantha menjadi anak yang memiliki sikap di luar kendali. Ia menjadi anak yang tidak sopan, kasar, manja dan egois. Ketika Samantha menangis dan menjerit untuk mendapatkan perhatian, orang tuanya hanya melirik mengacuhkan dan menyuruh pengasuh untuk membawa pergi Samantha agar kembali tenang. Hingga suatu hari Samantha sakit. Tubuhnya semakin melemah dan hanya bisa berbaring di ranjang. Akan tetapi orang tua Samantha tetap tidak mau tahu dan melihat keadaan Samantha yang sakit keras. Hanya pengasuhnya yang bernama Rumi senantiasa merawat dan menjaga Samantha. Sampai akhirnya Samantha menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Rumi. Samantha meninggal dengan membawa banyak pertanyaan yang belum ia dapatkan jawabannya dan selalu menunggu orang tuanya untuk menjemputnya. 

“Manusia yang kulihat di sekitar hanya datang dan pergi. Kalaupun mati, aku tak bertemu dengan mereka. Bisakah kau jawab pertanyaanku ini? Apa mungkin kedua orang tuaku juga sudah mati dan tak bisa menemukanku? Kadang, aku hanya mampu menatap ke atas sana, lalu memohon kepada Tuhan agar membawaku pulang saja, entah ke mana. Tapi, hatiku menjerit, aku tak akan pulang tanpa mereka, Papa dan Mama.” (Hal. 186)

Keunggulan Buku

Covernya menarik karena menggambarkan karakter anak perempuan. Warna pink pastel dengan lukisan sosok Samantha yang sendu pada covernya, dan pemilihan front yang sesuai membuat covernya semakin menarik apalagi untuk pembaca yang memilih buku dari covernya. Kisah Samantha pun dibawakan oleh Risa dengan sangat baik sehingga mampu membawa pembaca untuk merasakan emosi yang dirasakan oleh tokoh-tokoh yang ada pada novel tersebut. Bahasa yang digunakan mudah dimengerti dan alur ceritanya ringan sehingga pembaca bisa merasakan emosi dan mengimajinasikan keadaan Samantha.

Kelemahan Buku

Novel ini akan lebih menarik apabila ditambahkan sedikit ilustrasi. Selain itu, di dalam buku terdapat dua kertas yang sepertinya menjadi pembatas pada tiap bab yang menurut saya itu tidak perlu, karena tiap bab telah ditulis judulnya dan adanya dua kertas yang menjadi pembatas tersebut terlihat sia-sia walaupun sepertinya itu merupakan desain untuk memperindah buku.


Novel ini ditulis Risa untuk mendamaikan arwah Samantha. Risa telah berjanji pada Samantha untuk sering mengunjunginya, namun Risa tidak sengaja melupakan janjinya tersebut. Novel ini ditujukan untuk setiap orang karena dengan kisah Samantha ini membuat saya mengetahui bahwa ia yang telah tiada ternyata mempunyai kisah tragis yang menyayat hati. Kisah Samantha ini juga menjadi pembelajaran karena anak kecil yang tidak tahu apa-apa tidak bisa dibenci karena kesalahan yang tidak disengaja. Semoga para orang tua bisa memahami bahwa anak lebih membutuhkan perhatian dan kasih sayang daripada harus diberikan kemewahan namun merasa sepi. Dan semoga Samantha bisa tenang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Menjadi Seorang Peneliti Muda

Perjalanan Menjadi Seorang Peneliti Muda Sumber: Instagram @qonyanjani Jas laboratorium dan sarung tangan karet telah menjadi bagian dari Qonita sebagai peneliti. Perempuan kelahiran Palu, 21 Februari 1995 ini bernama lengkap Qonita Kurnia Anjani, S.Si., Apt., PhD. Saat ini ia menetap di Belfast, UK dan tengah sibuk bekerja sebagai Postdoctoral Research Fellow di School of Pharmacy, Queen’s University Belfast. Saat berusia 14 tahun, ia merantau ke Gorontalo untuk mengenyam Pendidikan Menengah Atas, tepatnya di Man Insan Cendekia Gorontalo. Setelah lulus, ia tidak pernah menetap di tanah kelahirannya. Ia selalu melanglang buana untuk mengenyam pendidikan dan mengejar mimpinya. Sejak kecil, Qonita memiliki cita-cita untuk menjadi dokter. Namun hal tersebut berubah ketika ia mengikuti lomba ISPO (Indonesian Science Project Olymipad) saat ia masih duduk di bangku Madrasah Aliyah. Seorang juri pernah bertanya kepadanya mengenai apa cita-citanya. Akan tetapi ketika mendengar Qonita mengataka...