Langsung ke konten utama

Masuk Jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Tadulako

    Saat membaca judul, tentu terbesit pertanyaan "Bagaimana rasanya ?" masuk jurusan yang keren tersebut. Saya tidak akan langsung menjawabnya, tapi saya akan menceritakan apa saja yang saya rasakan saat berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi. Semoga ini membantu kamu yang masih kebingungan untuk memilih jurusan perkuliahan nanti.

    Memilih Ilmu Komunikasi sebagai jurusan untuk perkuliahan merupakan keputusan besar dari beberapa pilihan yang ada pada daftar jurusan tujuan saya. Selain Ilmu Komunikasi, jurusan yang masuk dalam daftar pilihan saya yaitu Hubungan Internasional, Sastra Indonesia, dan Teknologi Pendidikan. Menentukan satu dari empat pilihan tersebut bukanlah hal mudah. Saya tertarik pada Hubungan Internasional karena saya ingin menjadi diplomat dan bisa bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jerman atau Korea. Saya minat pada jurusan Sastra Indonesia karena saya suka menulis dan membaca novel. Untuk Teknologi Pendidikan, karena situasi pandemi seperti ini pembelajaran melalui daring sehingga lulusan dari jurusan tersebut sangat dibutuhkan kedepannya. Namun, pada akhirnya saya memilih Ilmu Komunikasi karena saya sadar bahwa minat saya jauh lebih besar di jurusan ini.

    Awal masuk kelas perkuliahan yang saya rasakan yaitu deg-degan excited. Alasannya karena ini pertama kalinya saya belajar mengenai Ilmu Komunikasi. Selanjutnya yang saya rasakan yaitu campur aduk seperti permen nano-nano tapi masih tetap excited. Campur aduk yang saya maksud yaitu kaget, capek tetapi enjoy, senang, dan lain-lain. Saya kaget karena teman kelas, dosen dan mata kuliahnya seru. Capek karena ternyata tugasnya 2x lipat dari tugas saat SMA (semua jurusan pasti tugasnya banyak), namun tertutup dengan rasa enjoy karena tugas-tugas tersebut sesuai dengan apa yang saya minati. Senang karena bisa dapat ilmu baru yang selama ini saya tidak expect bahwa Ilmu Komunikasi ternyata ilmunya luas sekali. 

    Untuk semester awal yang dipelajari masih mata kuliah umum wajib, tetapi tugasnya benar-benar bisa mengarahkan konsentrasi apa yang akan diambil nantinya. Ilmu Komunikasi di Universitas Tadulako memiliki tiga konsentrasi yang dipilih saat semester 5 nantinya, yaitu Jurnalistik, Broadcasting, dan Public Relation. Saat ini saya tertarik pada Jurnalistik karena sesuai dengan minat saya dalam hal literasi. Saya juga tidak sabar untuk bisa belajar langsung dengan berkunjung pada media massa dan turun langsung di masyarakat. 
    
    Jadi untuk saat ini yang saya rasakan saat berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, yaitu excited dan rasa penasaran yang membara untuk belajar lebih banyak mengenai Ilmu Komunikasi. Selain itu, jurusan ini memang sesuai dengan minat saya sehingga saya tidak merasa terbebani apalagi stres untuk belajar atau mengerjakan tugas-tugasnya. Saya berharap kamu dapat memilih jurusan yang sesuai dengan apa yang kamu minati, agar nantinya kamu merasa enjoy di jurusan tersebut sama seperti saya :D

    Salam Komunikasi!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Novel Samantha by Risa Saraswati

Resensi Novel Samantha by Risa Saraswati Judul Buku      : Samantha Pengarang       : Risa Saraswati Penerbit           : PT. Bukune Kreatif Cipta Tahun Terbit    : Februari 2018, cetakan pertama Dimensi buku  : xii+192 halaman; 14x20 cm Harga Buku     : Rp. 67.100 (Harga Pulau Jawa) ISBN               : 978-602-220-258-5 Peresensi         : Naily Kurnia Riskiani; Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Tadulako Blurb Buku Terlalu lama aku melupakan Samantha, sosok hantu anak perempuan yang kutemui saat umurku masih belasan. Sampai di malam ini, dia muncul dan bertanya dengan malu, apakah aku masih ingat padanya? Seketika, aku ingat janjiku pada anak cantik bersorot mata sedih dan kesepian itu untuk sering mengunjunginya dan mengajak sahabat-sahabatku. Aku benar-benar ceroboh telah melupaka...

Perjalanan Menjadi Seorang Peneliti Muda

Perjalanan Menjadi Seorang Peneliti Muda Sumber: Instagram @qonyanjani Jas laboratorium dan sarung tangan karet telah menjadi bagian dari Qonita sebagai peneliti. Perempuan kelahiran Palu, 21 Februari 1995 ini bernama lengkap Qonita Kurnia Anjani, S.Si., Apt., PhD. Saat ini ia menetap di Belfast, UK dan tengah sibuk bekerja sebagai Postdoctoral Research Fellow di School of Pharmacy, Queen’s University Belfast. Saat berusia 14 tahun, ia merantau ke Gorontalo untuk mengenyam Pendidikan Menengah Atas, tepatnya di Man Insan Cendekia Gorontalo. Setelah lulus, ia tidak pernah menetap di tanah kelahirannya. Ia selalu melanglang buana untuk mengenyam pendidikan dan mengejar mimpinya. Sejak kecil, Qonita memiliki cita-cita untuk menjadi dokter. Namun hal tersebut berubah ketika ia mengikuti lomba ISPO (Indonesian Science Project Olymipad) saat ia masih duduk di bangku Madrasah Aliyah. Seorang juri pernah bertanya kepadanya mengenai apa cita-citanya. Akan tetapi ketika mendengar Qonita mengataka...